Monday, May 27, 2013

Heboh, No Telp Kuntilanak


Masyarakat di daerah bekasi di hebohkan dengan isu tentang no telepon yang ketika kita telpon, akan terdengan suara rintihan meminta tolong dari seorang gadis yang terperangkap ke alam gaib dan berubah menjadi kuntilanak,
menurut cerita masyarakat yang saya mintai info, sosok yang ada di telpon tersebut adalah seorang gadis yang terjebak / terperangkap ke dalam dunia alam gaib,
ketika orang tua nya mengikuti ritual ilmu hitam demi mendapatkan pengasihan dengan cara memakai baju tertentu,
ketika gadis tersebut sepulang sekolah, ingin sholat, dia membuka lemari dan mengambil baju yang ia pikir adalah mukena, ternyata itu adalah baju untuk mengikuti ritual ilmu hitam orang tua nya,
dan juga masih menurut cerita masyarakat, orang tua si gadis ini mengadakan sayembara, barangsiapa yg berhasil mengembalikan anak nya ke dunia manusia akan di nikahkan dengan anak nya, di beri uang sejumlah 100 juta, juga sebuah mobil,
saya mencoba untuk menelepon ke no tersebut, pertama2 agak susah untuk masuk, namun setelah beberapa kali mencoba telpon saya di angkat dan langsung ada suara rintihan 'tolooonggg,,,,,, tolooooongggg,,,, lepasin akuuu,,,,,'
saya sempat merinding ketika mendengar suara tersebut, namun setelah berkali2 mencoba telpon lagi, sudah agak berani hehehehe..
saya tidak tahu, apakah ini adalah rekaman telepon, atau ini adalah akal2an operator kartu tersebut.
anda ingin mencoba?.. ini nomor nya 08777 115 7048
saya tidak bertanggung jawab atas apa yang terjadi selanjut nya.
sumber: terselubung.blogspot.com

Kisah tentang benteng pertama Bangsa Timur di 'Kota Matahari'

Hatra, sebuah kota yang menjadi saksi sejarah Bangsa Timur melawan Romawi & merupakan ibukota pertama bagi Bangsa Arab.
Hatra, sebuah kota yang menjadi saksi sejarah Bangsa Timur melawan Romawi & merupakan ibukota pertama bagi Bangsa Arab. ©Reuters Para pengunjung berada di salah satu bagian depan di salah satu bangunan yang ada di Situs Hatra yang terletak 350 km dari utara Baghdad, Irak. Hatra dikenal juga sebagai Kota Matahari yang didirikan oleh suku-suku Arab Kuno pada sekitar abad ke-3 SM. Sebelumnya, pada abad ke-1 SM kota ini merupakan sebuah pusat agama dan perdagangan di bawah kerajaan Parthia Iran dan kemudian kota ini menjadi ibu kota Kerajaan Arab yang pertama. Hatra, sebuah kota yang menjadi saksi sejarah Bangsa Timur melawan Romawi & merupakan ibukota pertama bagi Bangsa Arab. ©Reuters Seorang pengunjung berdiri di pintu salah satu bangunan di situs Hatra. Hatra, pada masanya dijadikan sebuah kota perbatasan penting sekaligus untuk membentengi dari serangan Kekaisaran Romawi. Selain itu, situs yang terletak di utara Baghdad ini memiliki peran penting dalam Perang Parthia Kedua, yakni saat memukul mundur pengepungan dari kedua Kerajaan Trajan dan Septimius Severus. Hatra, sebuah kota yang menjadi saksi sejarah Bangsa Timur melawan Romawi & merupakan ibukota pertama bagi Bangsa Arab. ©Reuters Pengunjung berfoto bersama di salah satu bangunan yang ada di situs Hatra. Kota Hatra adalah sisa-sisa cerita peninggalan Kerajaan Parthia. Situs ini dikelilingi oleh dinding dalam dan luar hampir 4 mil (6,4 km) dan didukung oleh lebih dari 160 menara yang merupakan Temenos atau bangunan suci. Kota ini terkenal karena jejak dari Yunani, Mesopotamia, Pantheons Suriah dan Arab serta dikenal juga dengan sebutan Beit Elaha Hatra, sebuah kota yang menjadi saksi sejarah Bangsa Timur melawan Romawi & merupakan ibukota pertama bagi Bangsa Arab. ©Reuters Situs Hatra memiliki kuil dengan berbagai nama sesuai masanya, yaitu Nergal (Babilonia dan Akkadia), Hermes (Yunani), Atargatis (Siro Aramaean), Allat dan Shamiyyah (Arab) dan Shamash (Mesopotamia). Namun banyak cerita tentang kejatuhan Kota Matahari ini. Ada cerita bahwa Hatra jatuh dari kejayaan ketika seorang pengikut mengkhianati Raja Araba dengan menikahi anaknya, yakni Putri Nadira yang berujung keduanya dengan kematian.

Penemuan 11 makam berisi mumi era 200-700 SM

Sebanyak 11 mumi yang diperkirakan manusia pra-hispanik itu ditemukan di dalam sebuah makam kuno di sekitar kota Lima. Sebanyak 11 mumi yang diperkirakan manusia pra-hispanik itu ditemukan di dalam sebuah makam kuno di sekitar kota Lima. ©Reuters
Salah satu tengkorak yang diduga manusia pra-hispanik yang diperkirakan telah ada pada 1400 masehi ditemukan bersama 10 mumi lainnya di sekitar situs Tupac Amaru, Lima, Peru, Selasa (26/2). Sebanyak 11 mumi yang diperkirakan manusia pra-hispanik itu ditemukan di dalam sebuah makam kuno di sekitar kota Lima. ©Reuters Seorang arkeolog tengah memeriksa kondisi makam yang ditemukan di sekitar situs Tupac Amaru, Lima, Peru, Selasa (26/2). Sebanyak 11 mumi yang diperkirakan manusia pra-hispanik itu ditemukan di dalam sebuah makam kuno di sekitar kota Lima. ©ReutersTiga mumi diperkirakan telah ada pada sekitar 200-700 SM dan delapan lainnya sekitar 1100-1400 M. Saat ditemukan, mumi yang masih berada di dalam makam yang beralaskan alang-alang anyaman serta diikat dengan rotan dan ditutupi oleh beberapa kain. Sebanyak 11 mumi yang diperkirakan manusia pra-hispanik itu ditemukan di dalam sebuah makam kuno di sekitar kota Lima. ©Reuters Kondisi salah satu mumi yang diyakini bagian dari budaya Lima dan Yschma itu terkubur bersama benda-benda seperti keramik, tekstil, daun, dan alat yang digunakan untuk pertanian. Sebanyak 11 mumi yang diperkirakan manusia pra-hispanik itu ditemukan di dalam sebuah makam kuno di sekitar kota Lima. Seorang arkeolog tengah membersihkan makam mumi yang ditemukan di sekitar situs Tupac Amaru, Lima, Peru. ©Reuters

Tembang Mocopat Durma Untuk Memanggil Kuntilanak

kuntilanak

Lingsir wengi sliramu tumeking sirno

ojo tangi nggonmu guling

awas jo ngetoro

aku lagi bang wingo wingo

jin setan kang tak utusi

jin setan kang tak utusi

dadyo sebarang

wojo lelayu sebet…”

Petikan syair diatas pasti tidak asing lagi bagi yang pernah menonton film kuntilanak yang dibintangi julie estelle, itu adalah syair durma yang bisa memanggil kuntilanak seperti yang diceritakan dalam film tersebut.

kuntilanak

Durma itu adalah salah satu pakem lagu dalam Macapat. Macapat adalah kumpulan lagu Jawa yang mencakup 11 pakem (Dandhanggula, Mijil, Pocung, Megatruh, Gambuh, Sinom, Maskumambang, Pangkur, Durma, Asmarandana, dan Kinanthi). Tradisi Macapat ini diperkirakan dah mulai ada sejak jaman akhir kerajaan Majapahit.
kira-kira artinya kayak gini:

Menjelang malam, dirimu(bayangmu) mulai sirna…
Jangan terbangun dari tidurmu…
Awas, jangan terlihat (memperlihatkan diri)…
Aku sedang gelisah,
Jin setan ku perintahkan
Jadilah apapun juga,
Namun jangan membawa maut…

Setiap jenis pakem itu ada rumusnya (misal terdiri berapa baris; berapa suku kata; dan bunyi vokal tiap akhir baris). Jadi Durma pun punya rumus juga, dan Tembang Durma itu nggak cuma satu macam tapi banyak judulnya. Yang di muat di film itu cuma salah satunya. Rumus pakem lagu Durma adl: 12-a; 7-i; 6-a; 7-a; 8-i; 5-a; 7-i.

Setiap tembang dalam Macapat mencerminkan watak yang berbeda-beda. Durma, disebut sebagai bagian Macapat yang mencerminkan suasana/sifat keras, sangar, dan suram. Bahkan kadang mengungkapkan hal-hal yg angker dlm kehidupan. Cocok tuh, kalo film Kuntilanak mengekspos tembang ini. Tauuu aja…

Dalam tradisi Jawa, ada istilah Tembang Dolanan (Lagu Mainan). Yang dimaksud adalah lagu yang dipakai untuk ritual permainan magis Jawa. Misal, ada lagu untuk memainkan Jalangkung; ada lagu untuk memanggil roh dlm permainan boneka Ni Thowong; dsb. Ada pula lagu yang dipercaya bisa memanggil buaya di sungai (dari pakem Megatruh), dan oleh orang Jawa sampai saat ini masih menjadi mitos larangan untuk dinyanyikan di sungai.

Tapi untuk lagu-lagu ritual, biasanya nggak berdiri sendiri untuk memfungsikannya. Lagu itu dinyanyikan dengan iringan syarat ritual yg lain. Tiap ritual syarat/sesajinya biasanya sangat spesifik, jadi kalo tidak memakai sesaji itu ya lagu yg dinyanyikan nggak akan berpengaruh.

Di adat Jawa, ada lagu lain untuk “manggil” setan:

Sluku-sluku bathok, bathok’e ela-elo
Si romo menyang solo, oleh-oleh’e payung muntho
Mak jenthit lo-lo lobah, wong mati ora obah
Yen obah medheni bocah…

Dulu sebelum ada mainan2 canggih kayak sekarang, yg ada cuma mainan tradisional. Anak – anak Jawa punya tradisi, kalo bulan purnama mereka bikin boneka dari keranjang bunga yg habis dipakai buat ziarah (kayak Jelangkung). Trus bikin sesaji bunga tujuh rupa, sirih, dan tembakau, ditaruh di salah satu pinggir sungai.

di malam bulan purnama, anak – anak mengelilingi boneka itu sambil menyanyikan lagu tadi. Lagu itu dinyanyikan berulang kali sambil memegang boneka, dan lalu…

Boneka akan bergerak… agresif…!

Itu artinya roh penunggu sungai telah masuk ke boneka dan mau diajak bermain. Permainannya, boneka itu harus terus dipegang dan roh boneka itu akan membawa pemegangnya berlari-lari kemana-mana, lalu ini dijadikan permainan kejar-kejaran.

Siapa yg kelelahan akan ‘ditangkap’ oleh ‘boneka hidup’ itu, dipukuli dengan kepala boneka yg biasanya dibuat dari tempurung. Yang menggerakkan adl roh di dlm boneka itu.

Permainan ini disebut Ni Thowong, atau Ninidok, atau ada lagi yg nyebut Nini Thowok.

Permainan tersebut emang lazim dimainkan anak – anak jaman dulu, soalnya jaman dulu belum ada mal, belum ada bioskop apalagi playstation, dll..

Mantra penanggulangannya

Nga tha ba ga ma,
Nya ya ja dha pa,
La wa sa ta da,
Ka ro co no ho. (di baca 7 kali)

Kalo diamati, mantra diatas sebenarnya adalah ejaan huruf Jawa tapi disusun terbalik. Itu disebut Caraka Walik, mantra Jawa Kuno untuk menangkal roh jahat.
kuntilanak

sumber : http://wisbenbae.blogspot.com/2010/06/lagu-mocopat-durma-pemanggil-kuntilanak.htm

Asteroid Eltanin Diperkirakan Telah Memicu Jaman Es

alt
Sebuah asteroid raksasa yang menghantam Pasifik Selatan sekitar 2,5 juta tahun lalu, kemungkinan telah menyebabkan mega-tsunami dan bahkan mengubah iklim bumi, menurut sebuah studi baru di Australia.

Dikenal sebagai Eltanin, asteroid tersebut memiliki lebar hingga 2 kilometer (1,2 mil) dan menghantam dengan kecepatan tinggi perairan sangat dalam antara Chili dan Antartika.
"Ini hanya salah satu peristiwa hantaman asteroid ke laut dalam di planet ini dan sebagian besar telah dilupakan karena tidak ada kawah raksasa yang jelas untuk diselidiki," kata ketua penulis studi, James Goff di Universitas New South Wales (UNSW) dalam siaran pers.

Tsunami berikutnya kemungkinan telah mempengaruhi garis pantai di Pasifik, dan telah mengakibatkan jumlah besar uap air, belerang, dan debu.

"Tsunami saja akan cukup menghancurkan dalam jangka pendek, namun semua bahan yang dihempaskan begitu tinggi ke atmosfir sehingga cukup untuk meredupkan matahari dan secara dramatis mengurangi suhu permukaan bumi," jelas Goff.

"Bumi sudah dalam fase pendinginan bertahap, jadi peristiwa ini kemungkinan cukup untuk mempercepat dan memproses dimulainya Jaman Es."
Deposit geologi terjadi di berbagai tempat, termasuk di Antartika dan Selandia Baru, dan telah diinterpretasikan sebagai bukti perubahan iklim ketika dimulainya Jaman Kuarter, namun sebenarnya bisa saja akibat adanya deposit mega-tsunami.
Meski Bumi sudah mengalami fase pendinginan oleh Pliosen akhir, hantaman Eltanin kemungkinan telah mengkatalisis siklus 2,5 juta tahun glasiasi yang terjadi selama Pleistosen. 
(EpochTimes/sua)

Kepercayaan Bugis Kuno


Sebelum masyarakat bugis mengenal islam mereka sudah mempunyai “kepercayaan asli” (ancestor belief) dan menyebut Tuhan dengan sebutan ‘Dewata SeuwaE’, yang berarti Tuhan kita yang satu. Bahasa yang digunakan untuk menyebut nama ‘Tuhan’ itu menunjukkan bahwa orang Bugis memiliki kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa secara monoteistis. Menurut Mattulada, religi orang Bugis masa Pra-Islam seperti tergambar dalam Sure’ La Galigo, sejak awal telah memiliki suatu kepercayaan kepada suatu Dewa (Tuhan) yang tunggal, yang disebut dengan beberapa nama : PatotoE (Dia yang menentukan Nasib), Dewata SeuwaE (Dewa yang tunggal), To-Palanroe (sang pencipta) dan lain-lain.

Kepercayaan dengan konsep dewa tertinggi To-Palanroe atau PatotoE, diyakini pula mempunyai anggota keluarga dewata lain dengan beragam tugas. Untuk memuja dewa–dewa ini tidak bisa langsung, melainkan lewat dewa pembantunya. Konsep deisme ini disebut dalam attoriolong, yang secara harfiah berarti mengikuti tata cara leluhur. Lewat atturiolong juga diwariskan petunjuk–petunjuk normatif dalam kehidupan bermasyarakat. Raja atau penguasa seluruh negeri Bugis mengklaim dirinya mempunyai garis keturunan dengan Dewa–dewa ini melalui Tomanurung (orang yang dianggap turun dari langit/kayangan), yang menjadi penguasa pertama seluruh dinasti kerajaan yang ada. (Kambie, 2003).
Istilah Dewata SeuwaE itu dalam aksara lontara, dibaca dengan berbagai macam ucapan, misalnya : Dewata, Dewangta, dan Dewatangna yang mana mencerminkan sifat dan esensi Tuhan dalam pandangan teologi orang Bugis. De’watangna berarti “yang tidak punya wujud”, “De’watangna” atau “De’batang” berarti yang tidak bertubuh atau yang tidak mempunyai wujud. De’ artinya tidak, sedangkan watang (batang) berarti tubuh atau wujud. “Naiyya Dewata SeuwaE Tekkeinnang”, artinya “Adapun Tuhan Yang Maha Esa itu tidak beribu dan tidak berayah”. Sedang dalam Lontara Sangkuru’ Patau’ Mulajaji sering juga digunakan istilah “Puang SeuwaE To PalanroE”, yaitu Tuhan Yang Maha Esa, Sang Pencipta. Istilah lain, “Puang MappancajiE”. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Konsep “Dewata SeuwaE” merupakan nama Tuhan yang dikenal etnik Bugis–Makassar. (Abidin, 1979 : 12 dan 59).
Kepercayaan orang Bugis kepada “Dewata SeuwaE” dan “PatotoE” serta kepercayaan “Patuntung” orang Makassar sampai saat ini masih ada saja bekas-bekasnya dalam bentuk tradisi dan upacara adat. Kedua kepercayaan asli tersebut mempunyai konsep tentang alam semesta yang diyakini oleh masyarakat pendukungnya terdiri atas tiga dunia, yaitu dunia atas (boting langi), dunia tengah (lino atau ale kawa) yang didiami manusia, dan dunia bawah (peretiwi). Tiap-tiap dunia mempunyai penghuni masing-masing yang satu sama lain saling mempengaruhi dan pengaruh itu berakibat pula terhadap kelangsungan kehidupan manusia. Untuk mengetahui lebih jauh tentang kepercayaan Patuntung, lihat : Martin Rossler, “Striving for Modesty : Fundamentals of The Religion and Social Organization of The Makassarese Patuntung”, dalam BKI deel 146 2 en 3 en aflevering, 1990 : 289 – 324 dan WA Penard, “De Patoentoeng” dalam TBG deel LV, 1913 : 515 – 54.
Gervaise dalam “Description Historique du Royaume de Macacar” sebagaimana dikutip Pelras (1981 : 168) memberikan uraian tentang agama tua di Makassar. Menurut Gervaise orang-orang Makassar zaman dahulu menyembah Dewa Matahari dan Dewa Bulan yang disembah pada waktu terbit dan terbenamnya Matahari atau pada saat Bulan tampak pada malam hari. Mereka tidak mempunyai rumah suci atau kuil. Upacara sembahyang dan Kurban–kurban (Bugis : karoba) khususnya diadakan di tempat terbuka. Matahari dan Bulan diberi kedudukan yang penting pada hari-hari “kurban” (esso akkarobang) yang selalu ditetapkan pada waktu Bulan Purnama dan pada waktu Bulan mati, karena itu pada beberapa tempat yang sesuai disimpan lambang-lambang Matahari dan Bulan. Tempat ini dibuat dari tembikar, tembaga, bahkan juga dari emas (Pelras, 1981 : 169).
Selain menganggap Matahari dan Bulan itu sebagai Dewa, orang Bugis Makassar pra-Islam juga melakukan pemujaan terhadap kalompoang atau arajang. Kata “Arajang” bagi orang Bugis atau “Kalompoang” atau “Gaukang” bagi orang Makassar berarti kebesaran. Yang dimaksudkan ialah benda-benda yang dianggap sakti, keramat dan memiliki nilai magis. Benda-benda tersebut adalah milik raja yang berkuasa atau yang memerintah dalam negeri. Benda-benda tersebut berwujud tombak, keris, badik, perisai, payung, patung dari emas dan perak, kalung, piring, jala ikan, gulungan rambut, dan lain sebagainya. (Martinus Nijhoff, 1929, 365-366).
Kepercayaan lama yang sudah mengakar kuat bagi masyarakat Bugis memang berusaha dicarikan padanannya dalam ajaran Islam. Untuk merukunkan kedua kepercayaan itu, menurut Dr. Christian Pelras, penyiar agama Islam berusaha mengembangkan dalam kalangan istana suatu aliran mistik Bugis kuno dengan Tasawuf Islam. Hasil perpaduan dua kepercayaan itu, hingga kini masih bisa ditemukan dalam sejumlah naskah. Seperti yang telah dibicarakan oleh G Hamonic, dimana “Dewata SeuwaE’ PapunnaiE” (Dewata Tunggal yang Mempunyai kita) telah disamakan dengan Tuhan Yang Maha Esa ; “Dewa La Patigana” (Dewa Matahari) dan “Dewi Tepuling” (Dewa Bulan) disebut masing – masing sebagai “Malaikat Matahari” dan “Malaikat Bulan”. Adapun para Dewata dianggap termasuk bangsa Jin dan mitos tentang ’Sangngiang Serri’ sendiri tidak lagi dianggap sebagai “Dewi Padi” melainkan “jiwa padi”. (Kambie, 2003).
Penulis berkebangsaan Portugis, Tome Pires, yang mengunjungi Indonesia pada tahun 1512 – 1515, menyebutkan bahwa di Sulawesi Selatan terdapat sekitar 50 kerajaan yang masyarakatnya masih menyembah berhala. Salah satu bukti bahwa beberapa kerajaan di Sulawesi pada waktu itu tidak mendapat pengaruh Hindu tapi masih memiliki adat istiadat dan kepercayaan leluhur yang kuat, ialah dengan cara penguburan. (Nugroho Notosusanto, et.al, 1992). Praktek penguburan pada masyarakat Bugis Makassar pada waktu itu masih mengikuti tradisi pra-sejarah, yaitu jenazah dikubur mengarah timur–barat dan pada makamnya disertakan sejumlah bekal kubur seperti mangkuk, cepuk, tempayan, bahkan barang–barang impor buatan China, tiram, dan lain sebagainya. Juga dalam cara penguburan ini terdapat kebiasaan untuk memberi penutup mata (topeng) dari emas atau perak untuk jenazah bangsawan atau orang – orang terkemuka. (Pelras, 1972 : 208-210).
Macknight (1993 : 38) menyebutkan bahwa Penelitian arkeologi maupun berita Portugis melaporkan bahwa orang Bugis Makassar pada masa pra-Islam mempraktekkan penguburan kedua (sekunder), sebagaimana yang masih dipraktekkan orang Toraja sampai pada awal Abad XX dengan menggunakan gua-gua sebagai tempat penguburan. Raja dan bangsawan seluruh negeri Bugis, Makassar, bahkan termasuk Mandar dan Toraja di Sulawesi Selatan mengklaim diri mereka punya garis keturunan dengan Dewa–dewa melalui Tomanurung yang menjadi penguasa pertama seluruh dinasti yang ada. Mitos ini berkaitan dengan pandangan teologis (theology view) bahwa Dewata Seuwae’ melahirkan sejumlah Dewata (Rewata), yang merupakan asal usul Tomanurung, yang juga merupakan asal-usul seluruh penguasa dinasti di semenanjung Sulawesi Selatan. Mitos ini sangat kuat dipercayai dan tak tergoyahkan. (Kambie, 2003).
Dilihat dari perjalanan sejarahnya, masyarakat Bugis dikenal sebagai masyarakat yang sangat kuat berpegang pada kepercayaan lama yang bersumber dari Kitab La Galigo. Meskipun Islam sudah menjadi agama resmi Masyarakat Bugis namun Kepercayaan–kepercayaan lama itu masih mewarnai keberislaman mereka. Hal ini tercermin lewat berbagai ritual dan tradisi yang masih bertahan hingga kini. DGE Hall (Badri Yatim, 1996 : 211-212) mengungkapkan bahwa terlambatnya Islam diterima di Sulawesi Selatan, disebabkan kuatnya masyarakat Bugis Makassar berpegang pada adat dan kepercayaan lama. Menerima Islam, menurut mereka, akan berimplikasi pada perubahan budaya yang mendalam. Pada beberapa aspek tertentu, kepercayaan leluhur Bugis Makassar yang bersumber dari ajaran Sure’ Galigo dapat pula disebut agama karena menganjurkan penganutnya dan dalam kepercayaan tersebut terdapat berbagai aturan dan tata cara, yang dilakukan sebagai bentuk pengabdian dan penghambaan diri terhadap Sang Maha Pencipta

 (PatotoE). (Kambie, 2003 : 68).

Catatan Geografis dan Geologis Raffles

Dalam History of Java, Raffles telah menyebut tentang gununglumpur Bledug Kuwu. “Beberapa objek yang tidak dikenal, yang hanya dapat dilihat dengan penjelasan tertentu, adalah ledakan-ledakan lumpur, terletak di antara distrik Grobogan di barat, dan distrik Blora serta Jipang di timur. Penduduk lokal menyebutnya Bledeg, dan Dr.Horsfield menyebutnya sumur garam. Sumur garam ini menyebar ke seluruh distrik dengan aliran seluas beberapa mil, dan dasarnya seperti banyak ditemukan di beberapa tempat yang ada aliran air tawar, akan menjadi batu kapur…” .

Raffles juga membahas tentang rembesan-rembesan gas dan minyak (jauh lebih awal daripada pemetaan sistematik pertama rembesan minyak dan gas oleh Belanda pada tahun 1850), tentang mineral dan bahan tambang.
Saat Raffles memerintah di Jawa terjadilah letusan gunungapi dengan energi terbesar di dunia dalam masa sejarah manusia : Tambora 1815 di Sumbawa. Dan, Raffles sangat detail menggambarkan peristiwa letusannya sampai efek-efek kerusakannya.
Lalu Apa yang ditemukan Raffles saat akan mengakhiri tugasnya saat berkunjung ke Pagaruyung tahun 1818? Apakah komentar Raffles saat mengunjungi dataran tinggi minangkabau pada Juli 1818? Raffles berkata, “Seperti halnya Jawa, di sini sedang mengalami kemerosotan dari suatu peradaban kuno yang gemilang. Raffles adalah penulis History Of Java, dia juga yang menemukan Candi Borobudur di hutan belantara dan juga Trowulan (Kawasan kerajaan Majapahit). Raffles tahu “Desa emas” di desa Luhak Kubuang Tigo Baleh (Luhak Kubung Tiga Belas, sekarang termasuk kecamatan Salayo, Kabupaten Solok).
Teringat cerita utusan Pagaruyung berjumlah 13 orang ke arah selatan menuju Batu sangkar – Solok – Alahan Panjang – Muara Labuh menyusuri Pesisir Selatan.
Pagaruyung adalah daerah emas. Diperkirakan hingga tahun 1818 di kawasan tersebut ada 1200 lokasi tambang emas yag sudah diekspolitasi.
Apa yang sebenarnya dicari Raffles saat berkunjung ke Dataran tinggi Minangkabau?
Pagaruyung luar biasa. Industri manufaktur maju. Daerah ini terkenal dengan produksi kerisnya. Produksi besi tempa sudah ada sejak zaman dahulu kala. Industri tembikar berskala besar di sepanjang tepi danau tidak hanya memenuhi kebutuhan daerah padang, tapi juga dikirim hingga ke Bengkulu. Jarang terungkap, mesin-mesin pemintal banyak dijumpai Raffles di rumah-rumah penduduk di daerah yang dia singgahi. Pertanian dikawasan itu lebih maju dari yang diperkirakan. Disana sudah dikenal persawahan. Sistem ladang berpindah sudah ditinggalkan. Raffles sempat kaget ada kincir air yang ternyata sudah lazim digunakan di Minangkabau. Ini contoh kemajuan bercocok-tanam di Minangkabau yang bahkan belum dicapai oleh Jawa, padahal Jawa sudah lama bersentuhan dengan Cina.
“Seingat saya, saya tidak pernah melihat kincir air atau sejenisnya di Jawa .“, ujar Raffles.
Kincir air ini penemuan asli masyarakat setempat.
Ada teknologi budidaya tebu. Perkebunan tebu disana tergolong besar. Raffles melihat penggilingan tebu untuk diolah menjadi gula pasir.
Namun, bukan 1200 tambang emas, majunya industri manufaktur, teknologi mesin pemintal, kincir air dan olahan tebu yang dicari Raffles. Lalu apa?
Raffles menemukan Borobudur dan Trowulan, tapi dia tidak sempat menemukan bukti utuh kerajaan Sriwijaya, Istana Pagaruyung dan Jawa Barat.
Jadi, sebenarnya dimana Istana megah itu berada?
Raffles menuju tempat yang ia cari. Terlihat seluruh hutan disitu pernah terkubur oleh guncangan katastropik hebat pada mas lampau. Di Suruaso, tunggul dan batang pohon mengalami pemfosilan. Menariknya, tunggul dan batang pohon itu mencuat keluar dari dalam tanah. Melewati Suruaso, Raffles menjumpai beberapa kolam yang menurut cerita dilokasi tersebut dulunya banyak bangunan tua megah yang terkubur. Satu-satunya yang ditemukan Raffles adalah sebuah arca yang terdapat di dalam empat batu yang diduga kuat adalah gerbang masuk sebuah kota dimasa lalu.
Memasuki kota Pagaruyung, Raffles mengklaim temukan lokasi yang dahulunya merupakan tempat berdirinya istana, namun tak berbekas lagi. Ditemukannya istana terkubur saat rerumputan liar disingkirkan. Ini masih tanda tanya besar, apakah istana itu sudah ditemukan atau tidak? Raffles tak menemukan prasasti di tempat itu, tetapi ia menemukan sebuah arca peninggalan Islam yang pada saat itu digunakan untuk mengenang mereka yang sudah meninggal.
Di persinggahan berikutnya, Raffles menemukan dua prasasti, arca-arca Hindu mirip seperti yang ditemukan di Jawa. Di Simawang, Raffles menemukan prasasti dalam huruf Kawi. Tulisan di prasasti itu hampir pudar karena terus menerus dikikis air kucuran danau.
Singkat cerita, dan diyakini itu memang Istana Pagaruyung. Namun, kompleks seperti Trowulannya Majapahit tak berhasil ditemukan Raffles.

Dikutip dengan pengubahan seperlunya dari @WARNINGGEMPA

Ulama dan Ilmuwan dari Persia (2-habis)

Ulama dan Ilmuwan dari Persia (1)
Ilustrasi
Muhammad Baqir Astarabadi
Nama lengkapnya adalah Muhammad Baqir Astarabadi, namun lebih dikenal dengan panggilan Mir Damad.

Ia adalah salah seorang ulama terbesar di zamannya dan guru terkenal yang mengajarkan filsafat peripatetik (masyai), filsafat iluminasi (isyraqi), irfan, fikih, dan ilmu keislaman lainnya. Ia hidup pada masa pemerintahan Syah Abbas I, dan wafat pada 1040 H/1631 M.

Ia dilahirkan di Khurasan pada 969 H atau 1562 M, dan menghabiskan masa remajanya di Masyhad, ibu kota Khurasan.

Di negeri asalnya, Persia, Mir Damad juga dikenal luas sebagai pendiri aliran Isfahan, yakni sebuah aliran tasawuf yang mengembangkan ajaran filsafat ketuhanan (al-Hikmah al-Ilahiyyah). Aliran tasawuf filsafat ini kemudian terkenal dengan sebutan filsafat pencerahan (isyraqi).

Mulla SadraNama lengkapnya adalah Sadruddin Muhammad bin Ibrahim Syirazi. Namun, ia lebih dikenal dengan nama Mulla Sadra.

Ia dilahirkan di Kota Syiraz (Iran) pada 979 H/1571 M, dan wafat di Kota Bashrah (Irak) pada 1050 H/1640 M dalam perjalanan ke Makkah dalam rangka menunaikan ibadah haji yang ketujuh.

Mulla Sadra merupakan tokoh terbesar aliran tasawuf filsafat ketuhanan. Ajaran tasawuf filsafat ketuhanan ini ia pelajari langsung dari Syekh Bahauddin Muhammad bin Husain Al-Amili Al-Juba’i di Kota Qazwin.

Sebagai seorang filsuf, nama Mulla Sadra setara dengan para ahli filsuf Muslim yang hidup pada masa sebelum maupun sesudahnya, seperti Al-Farabi, Ibnu Sina, Nasiruddin At-Thusi, Ibnu Rusyd, dan Ibnu Miskawaih.



Redaktur: Chairul Akhmad
Reporter: Nidia Zuraya

Bukti Air di Mars Ditemukan

Kerikil di bebatuan jadi bukti ada aliran air selutut

Kerikil di bebatuan Mars (kiri) dan kerikil di bebatuan Bumi (kanan) yang bekas aliran air
Kerikil di bebatuan Mars (kiri) dan kerikil di bebatuan Bumi (kanan) yang bekas aliran air (Reuters/ NASA)
Penjelajah Mars milik NASA, Curiosity, menemukan bekas aliran air di planet tetangga bumi itu. Bukti aliran air itu di tempat pendaratannya sendiri.

Curiosity mendarat pada 6 Agustus 2012 di dalam sebuah dataran raksasa dekat khatulistiwa Mars. Robot berukuran sebuah mobil kecil ini ditargetkan menjalankan misi dua tahun meneliti di kawasan yang disebut Kawah Gale.

Ilmuwan menduga gundukan yang disebut Gunung Sharp itu merupakan sisa-sisa sedimen yang dulunya mengisi penuh kawah. Analisis atas sebuah pecahan batuan antara lereng utara kawah dengan dasar Gunung Sharp mengindikasikan adanya aliran deras air pernah terjadi di sana.

Gambar yang diambil Curiosity dan dilansir Kamis lalu memperlihatkan kerikil bulat terpasak di bebatuan, yang menjulang bak jalan yang dipaku di permukaan planet itu. Kerikil-kerikil di dalam bebatuan itu terlalu besar untuk digerakkan oleh angin, kata ilmuwan Curiosity Rebecca Williams dalam sebuah telewicara di Tucson, Arizona.

"Konsensus tim ilmuwan, ini adalah kerikil-kerikil yang dibawa air dalam aliran yang kuat," katanya.

Bebatuan ini dipercaya menjadi dasar dari aliran di masa lalu sedalam mata kaki. Analisis ini diambil berdasarkan telefoto yang diambil penjelajah yang dalam perjalanan di kawasan bernama Glenelg di mana terdapat tiga macam bebatuan bertemu.

Ilmuwan belum memutuskan meneliti kimia bebatuan atau menargetkan lebih jauh Curiosity mencari bentuk kehidupan atau mineral. "Soal kehidupan melalui observasi sederhana mengenai air di Mars," kata ketua peneliti John Grotzinger yang dari California Institute of Technology.

"Tentu air mengalir adalah tempat mikroorganisme bisa hidup," katanya. Namun jenis bebatuan ini belum bisa disimpulkan bisa menjadi lingkungan makhluk hidup bisa hidup.

(sj)

Ulama dan Ilmuwan dari Persia (1)

Ulama dan Ilmuwan dari Persia (1)
Ilustrasi
Dalam bidang ilmu pengetahuan, Persia dikenal sebagai bangsa yang berperadaban tinggi dan berjasa dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.

Karenanya, pada masa Kerajaan Safawi (907-1134 H/1501-1722 M), ilmu pengetahuan mengalami perkembangan yang cukup pesat.

Kemajuan yang dicapai dalam bidang ilmu pengetahuan ini telah melahirkan sejumlah nama besar yang ahli di berbagai disiplin kelimuan.

Beberapa nama ilmuwan, sejarawan, dan sastrawan terkemuka di era Safawi antara lain Muhammad bin Husain Al-Amili Al-Juba’i, Muhammad Baqir Astarabadi, dan Sadruddin Muhammad bin Ibrahim Syirazi.

Muhammad bin Husain Al-Amili Al-Juba’i
Nama lengkapnya adalah Syekh Bahauddin Muhammad bin Husain al-Amili al-Juba’i. Ia merupakan ulama Syiah yang terkenal pada masa pemerintahan Syah Abbas I.

Ia berasal dari Jabal Amil, Lebanon, suatu wilayah yang telah menjadian acuan sejak masa Syah Isma’il I dan Syah Tahmasp untuk mencari ulama Syiah guna didatangkan ke Kerajaan Safawi.

Syekh Bahauddin hidup pada periode 953 H hingga 1030 H.  Ia termasuk salah satu ulama Syiah yang memiliki peranan penting dalam menyebarluaskan ideologi Syiah di wilayah-wilayah yang dikuasai oleh Kerajaan Safawi.

Ia merupakan guru utama Syiah pada lembaga pendidikan Syiah yang didirikan oleh Syah Abbas I di Kota Isfahan.


Redaktur: Chairul Akhmad
Reporter: Nidia Zuraya