Saturday, April 6, 2013

Artikel yang bernyawa

Pada umumnya, sebuah tulisan yang diposting secara online, mendapatkan pengunjung tertinggi saat tulisan tersebut ditayangkan di halaman muka web page. Namun tidak dengan tulisan ini. Dia seolah hidup. Tetap diakses walaupun sudah sebulan lalu diposting.



Terlepas dari banyaknya komen yang mempertanyakan keabsahan isi surat tersebut, namun menurut teman-teman, link artikel tersebut beredar di BBM group, umumnya kalangan Kristen. Menurut saya, hal ini memberi dampak positif bagi pergeseran paradigma umat Kristen dan non muslim lainnya mengenai sosok Nabi Muhammad SAW, sebagai sosok yang cinta damai dan jauh dari kekerasan.


Surat tersebut saat ini tersimpan di musium Topkapi (istana Topkapi) di Turki, bersama dengan benda-benda bersejarah peninggalan Nabi Muhammad lainnya seperti cetakan telapak kaki Rasulullah, pedang, jubah, hingga rambut Rasulullah. Tersimpan di ruang Relikui Suci. Disana pula sejumlah benda-benda peninggalan sahabat Rasulullah tersimpan. *



Secara logika, bahwa surat tersebut telah dilegalisasi oleh Sultan Turki dan aslinya ditempatkan di tempat yang terhormat di istana Topkapi, menunjukkan bahwa surat tersebut telah melalui pemeriksaan aparat kesultanan.


Dan selama lima ratus tahun lebih tidak ada gugatan atau kontra dari organisasi maupun negara Islam atas keabsahan surat tersebut. Mengingat pentingnya hal-hal yang terkait Nabi Muhammad, maka jika terjadi pemalsuan atau mencatut nama beliau, tentu saja akan menimbulkan persoalan. Namun hingga hari ini tidak pernah terdengar.



Bagi yang meyakini bahwa surat tersebut palsu, perlu perjalanan panjang untuk membuktikan bahwa surat tersebut palsu.


Surat ini jelas membawa pesan perdamaian bagi kehidupan antar umat beragama. Mengapa keberatan dengan perdamaian?


Kiranya artikel ini dapat memberikan kontribusi bagi kerukunan umat beragama di Indonesia.

* Sumber:


- Di Istana Topkapi, Pedang Rasulullah Kini Berada

- Istana Topkapi, Museum Penyimpan Benda Nabi Muhammad SAW


- Privy Chamber

Thankyou Yoko, for enlightening comment.

Esther Wijayanti -