Sunday, April 7, 2013

Gerakan Sarekat Islam di Afdeeling Midden Celebes (1916-1923)

Sebersih-bersih tauhid (akidah)

Setinggi-tinggi ilmu pengetahuan (ilmu)

Sepandai-pandai siasat (politik)

(H.O.S. Tjokroaminoto)

Tulisan ini merupakan intisari dari karya tulis ilmiah saya yang menjadi Terbaik II dalam Lomba Karya Tulis Sejarah (LKTS), Pekan Nasional Cinta Sejarah (PENTAS) di Palu Sulawesi Tengah beberapa waktu yang lalu dengan judul: Gerakan Sarekat Islam di Afdeeling Midden Celebes: 1916-1923. Tulisan ini berupaya memperkaya referensi mengenai sejarah lokal Sulawesi Tengah, khususnya sejarah masa pergerakan nasional di Sulawesi Tengah. Sarekat Islam sebagai organisasi pergerakan pertama dengan basis massa yang besar melahirkan tokoh-tokoh pergerakan baik nasional maupun lokal yang menandai jiwa zamannya (zeitgeist). Tokoh-tokoh inilah yang kemudian melahirkan gerakan di hampir seluruh wilayah Indonesia termasuk Sulawesi Tengah yang saat itu termasuk ke dalam wilayah Afdeeling Midden Celebes. Batasan periodik yang digunakan adalah tahun 1916 sebagai tahun awal munculnya pengaruh Sarekat Islam di Afdeeling Midden Celebes dan 1923 sebagai tahun perubahan nama Sarekat Islam menjadi Partai Sarekat Islam. Karakteristik, model dan konsep gerakan yang dilakukan oleh para tokoh Sarekat Islam khususnya di wilayah Afdeeling Midden Celebes yang akan disajikan secara tersirat dalam tulisan sederhana ini.

Gerakan Sarekat Islam di Afdeeling Midden Celebes berbeda dengan Gerakan Sarekat Islam di daerah lainnya. Sebagian besar golongan Aristokrat di Afdeeling Midden Celebes masuk ke dalam organisasi Sarekat Islam. Fenomena yang terjadi kemudian adalah beberapa daerah yang golongan aristokratnya tidak tersentuh gerakan tersebut memunculkan resistensi dengan tokoh-tokoh masyarakat yang telah menjadi bagian dari gerakan tersebut. Contoh kasus yang menggambarkan hal tersebut adalah Peristiwa Salumpaga yang dimotori oleh seorang imam yang bernama Haji Hayun yang bukan merupakan golongan bangsawan melawan Belanda yang diaktualisasikan sebagai kaum kafir dan Raja Tolitoli Mohammad Ali Bantilan beserta para bangsawan Tolitoli yang justru memihak kepada Belanda. Perlawanan tersebut sebagai bentuk ketidakpuasan masyarakat terhadap kebijakan yang dibuat oleh Belanda dengan legitimasi dari penguasa setempat.

Gerakan Sarekat Islam di Afdeeling Midden Celebes merupakan salah satu contoh gerakan sosial. Gerakan sosial menurut Sartono Kartodirdjo adalah fenomena sejarah yang sering diabaikan oleh sejarawan Indonesia. Gerakan Sarekat Islam di Afdeling Donggala termasuk kedalam gerakan keagamaan karena semangat gerakannya dilandasi oleh semangat keagamaan yang kental. Sartono Kartodirdjo melihat bahwa gerakan sosial memiliki ideologi gerakan yang perlu diperhatikan secara seksama untuk dikaji secara lebih mendalam. Ideologi gerakan tersebut antara lain disebut sebagai gerakan-gerakan mistis-ideologis penuh dengan subjektifitas, normatifitas, dan tertutup sehingga tampil sebagai gerakan-gerakan, meminjam istilah Sartono Kartodirdjo sebagai gerakan Millenarisme (Ratu Adil) dan Nativisme (Pribumi). Gerakan tersebut disebut sebagai gerakan Millenarisme (Ratu Adil) karena pada dasarnya gerakan tersebut dilatarbelakangi oleh ketidakpuasan masyarakat terhadap kebijakan yang dibuat oleh Belanda dengan legitimasi dari penguasa setempat. Sarekat Islam melalui para tokoh-tokohnya dianggap sebagai Ratu Adil yang dapat membebaskan mereka dari belenggu penindasan dan penjajahan. Gerakan tersebut juga termasuk gerakan Nativisme (Pribumi) sebab yang menjadi motor dalam gerakan tersebut adalah kaum pribumi yang ingin lepas dari belenggu penjajahan.

Berdasarkan Staatsblaad 1907 nomor 27 dan Besluit tanggal 30 Juni 1908 tentang Afdeeling Midden Celebes, wilayah Afdeeling Donggala sebelumnya terbagi menjadi 3 Onder Afdeeling yaitu, Onder Afdeeling Westkust van Midden Celebes, Onder Afdeeling Paloe, dan Onder Afdeeling Parigi. Tahun 1911, pemerintah kolonial Belanda melakukan perombakan struktur pemerintahan di Keresidenan Manado. Pada tahun itu, Afdeeling Teluk Palu diganti menjadi Afdeeling Sulawesi Tengah (Midden Celebes) yang dipimpin oleh seorang Asisten Residen, yang berkedudukan di Donggala. Afdeeling ini dibagi menjadi lima Onderafdeeling yaitu Donggala termasuk Banawa, dan Tawaeli, Palu, Poso Parigi, dan Toli-toli. Semua Onderafdeeling ini kecuali Donggala dan Palu dipimpin oleh seorang Kontrolir pemerintahan, dikepalai oleh seorang civil gezaghebber. Wilayah Afdeeling Midden Celebes yang menjadi lahan subur perkembangan Sarekat Islam tersebut terletak di daerah yang saat ini menjadi daerah Provinsi Sulawesi Tengah

Golongan aristokrat yang menjadi tokoh Sarekat Islam Afdeeling Midden Celebes antara lain; Raja Banawa Rohana Lamarauna (1932-1942), Magau Dolo Datu Pamusu, Madika Malolo Dolo Datu Palinge, Gagaramusu, Madika Matua Dolo Lapasere, Raja Toli-toli Mogi Ali Haji, H. Yoto Daeng Pawindu, Madika Ada Ntana Kerajaan Sindue Lasadindi (Mangge Rante), Kepala Distrik Tawaeli Pertama Mangalaulu atau Yululembah, dll. Hal tersebut membuktikan bahwa SI telah berhasil menanamkan pengaruh yang besar di Afdeeling Midden Celebes. Perkembangan Sarekat Islam di Afdeeling Midden Celebes sangat pesat karena SI merupakan organisasi yang berbasis pada kekuatan arus bawah yang menampilkan corak keagamaan, tidak terbatas untuk satu golongan saja. Selain itu, Sarekat Islam secara terang-terangan menentang kolonialisme dan imperialisme barat sehingga SI dengan mudah menarik simpati masyarakat. Kehadiran SI di Afdeeling Midden Celebes juga mempengaruhi perlawanan baik perlawanan bersenjata maupun melalui jalur diplomasi yang dilakukan oleh masyarakat Afdeeling Midden Celebes terhadap kolonialisme dan imperialisme Belanda. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya tokoh-tokoh SI yang terlibat dalam perlawanan-perlawanan menentang kolonialisme dan imperialisme Belanda seperti keterlibatan Haji Hayun dalam peristiwa Salumpaga tahun 1919, gerakan Yoto Dg Pawindu di Palu. Rohana Lamarauna di Donggala, Datupamusu, Datupalinge, Gagaramusu, dan Lapasere di Dolo, Lasadindi (Mangge Rante) di Sindue, dan Mangalaulu (Yululembah) di Tawaeli.

Akan tetapi, dalam perkembangannya, SI mendapat hadangan dari dalam terutama dari kalangan elite penguasa kerajaan yang merasa bahwa kehadiran SI akan mengancam eksistensi mereka sebagai penguasa walaupun faktanya, sebagian besar tokoh SI merupakan golongan Aristokrat. Kemudian dengan membentuk organisasi tandingan dan bekerja sama dengan pemerintah Belanda, mereka mencoba menekan laju pertumbuhan SI di daerah kekuasaannya. Padahal secara tidak sadar, mereka telah termakan politik devide at impera yang dilancarkan oleh pemerintah Belanda yang secara perlahan melemahkan kekuasaan mereka.

SI adalah organisasi besar dengan ideologi yang sangat jelas. Kekuatan organisasi ini ada pada ideologi Islam yang digunakannya. Pengaruh yang baik menyebabkan masyarakat Islam di tanah air termasuk Afdeeling Midden Celebes berbondong-bondong masuk ke organisasi SI.

*Penulis adalah Duta Provinsi Sulawesi Tengah

dalam Indonesian Youth Conference (IYC) 2012

Jefrianto*