Friday, April 19, 2013

Misteri Penambangan Purba di Sumbawa


Batu Hijau concentrator in Sumbawa owned by PT Newmont Nusa Tenggara. (Newmont )


Tim Bencana Katastropik Purba menelusuri keanehan sejarah dan ekstraksi bumi di Sumbawa.
Tim Bencana Katastropik Purba memiliki kisah tambahan usai mempelajari jejak-jejak tsunami dari sedimentasi di Sumbawa selama empat hari pada 13-17 April.

Menurut tim yang difasilitasi Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana Alam, Andi Arief ini, belum ada studi yang mengulas sejarah dan ekstraksi bumi di pantai selatan Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.

Kisah mengenai eksplorasi awal ahli geologi Newmont yang menemukan penambangan kuno di puncak Batu Hijau masih terpendam. Sisa peninggalan yang kemungkinan masih ada telah hilang sehingga Tim Katastropik Purba tidak menemukan benda sisa peradaban purbakala.

Pada awal 90-an saat melakukan pemetaan para ahli geologi menemukan satu lapisan tipis serupa arang yang ditutupi oleh endapan volkanik dan tanah. Di zona lapisan memanjang tersebut terdapat banyak sekali keramik (pottery) dan sisa-sisa pembakaran bijih untuk pemurnian tembaga (slag). Para pakar geologi ini curiga fenomena itu merupakan bekas penambangan kuno.

Hasil laporan tim Newmont menyebutkan mereka tidak menemukan benda-benda bernilai sejarah. Selanjutnya, Newmont mengubah lokasi itu menjadi lembah kerucut terbalik dengan kedalaman hingga 700 meter dari permukaan awal, seperti Grasberg milik Freeport di Papua. Eksplorasi Bukit Hijau telah membentuk kaldera yang sangat dalam.

"Tim mendapatkan kabar bahwa laporan tertulis tim arkeologi itu ada di Newmont, tapi mereka tidak tahu disimpan di mana sekarang karena sejak dulu proyek tersebut dirahasiakan," ungkap Tim Katastropik Purba pada penyataan tertulisnya.

Sebagian dari "artefak-artefak" yang dikumpulkan diduga banyak dijadikan souvenir oleh tim eksplorasi Newmont. Bahkan, diboyong hingga ke kantor pusat di Denver, Amerika Serikat. Tim katastropik berharap para ahli geologi Indonesia yang sudah tidak tergabung dengan perusahaan tambang itu masih menyimpannya.

Menurut analisis Tim Katastropik Purba, sangat aneh apabila ada lapisan "arang" dengan banyak artefak yang ditutupi endapan gunung api bisa dianggap tidak bernilai sejarah. Apabila benar dugaan lapisan penguburnya merupakan endapan tuffa gunung api, maka kemungkinan itu adalah endapan piroklastik letusan Gunung Tambora pada 1815. Tim menduga kegiatan penambangan tembaga di daerah itu sudah terjadi sebelum 1815.

Tim juga menemukan bentukan morfologi yang menarik di daerah pantai. Gunung radial dengan bagian sirkular tengahnya menunjukkan pola menurun ke tengah, seperti kaldera dangkal. Lokasi itu serupa bentuk galian tambang batuan vulkanik porfiri yang sudah ditutup.

Peta geologi menunjukkan data yang tidak konsisten. Kemungkinan memang belum pernah didaki untuk diteliti, seperti gunung api purba. Bahkan, Newmont pun tertarik untuk pengeksplorasinya karena masih dalam wilayah konsesi. Apabila terbukti ada mineralisasi, maka di dalam "gunung" tersebut kemungkinan menyimpan cadangan serupa Batu Hijau.

"Ternyata makin banyak misteri masa lalu Indonesia. Bekas-bekas penambangan kuno menunjukkan bahwa pengetahuan dan teknologi mineral dan metalurgi telah sangat maju di zaman dulu," jelas Tim Katastropik Purba.

Nama-nama berbau oriental pada daerah pantai selatan Sumbawa seperti Maluk (Ma Luk), Sekongkang (Tse Kong Kang), dan Yangse (Yang Tse) menimbulkan dugaan daerah itu pernah dijelajah oleh bangsa Mongol dan Cina. Tim Katastropik Purba pun masih belum dapat menjawab misteri ini. Apakah mungkin tentara-tentara Jenghis Khan telah melakukan penambangan tembaga sebelum 1815? (umi)

Vivanews